Diksar Berujung Maut: Memupuk Subur Kebencian!

Dua pecinta alam meregang nyawa saat acara pendidikan dasar yang diadakan Pecinta Alam UII Yogyakarta. Dua saudara kita ini bernama Muhammad Fadli, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri dan Syaits Asyam (19), mahasiswa Jurusan Teknik Industri. Acara ini diadakan pada 13 sampai 20 Januari 2017 di lereng selatang gunung Lawu.

Tulisan ini gak bahas soal kejadian karena emang udah banyak disampaikan media online seperti Okezone.com (klik aja gan buat buka beritanya). Tapi disini aku pengen sharing soal cara pendidikan yang sebenarnya tidak mendidik dan membodohi, menurutku ya. Mau setuju silakan, gak juga gak masalah.

Jujur aja, aku dari SMP atau SMA, gak pernah yang namanya ikutan komunitas pecinta alam (PA). Soalnya dari komunitas lain yang aku ikuti aja udah banyak bersinggungan sama alam, ngapain masuk pecinta alam lagi? Tapi meski demikian, aku sempet ikutan acara PA di SMA karena mewakili organisasi di atasnya, OSIS.

Dari satu acara itu, aku lihat banyak hal yang menurutku gak penting dan aku sendiri gak nemuin maksud dan tujuan akhirnya. Contohnya? Cium pohon, tidur di sawah, naik bukit sambil bawa air, dsb. Belum lagi acara bentak-bentakkan yang kadang pake botol aqua, ranting kayu, sampai yang diceritakan ibu korban diksar PA UII, rotan!

ibunda menangisi anaknya yang pergi tak kembali
Inilah seorang ibu yang menyaksikan anaknya meregang nyawa karena diksar yang bodoh | news.okezone.com

“Syaits (alm) mengaku punggungnya dipukul pakai rotan hingga sepuluh kali. Ia juga harus membawa air berjumlah banyak, sambil diinjak. Sri menceritakan kembali cerita anaknya itu, dengan mata berkaca-kaca,” begitu kata ibunda yang kehilangan anak kesayangannya tersebut.

Yang aku pikirin nih:

  1. Kenapa harus ada aksi pukul pake rotan? Apa karena si korban melakukan kesalahan?
  2. Oke, kalo dia emang salah, sesalah apa sampai harus dipukul 10x pake rotan?
  3. Terus kalo harus ada aksi pukul-pukul ini, manfaat dan tujuannya apa? Biar apa? Biar kuat kayak Gatotkaca gitu?

Gatot, gagal total, iya bos!

MENTAL YANG DIPUPUK, KEBENCIAN YANG TUMBUH SUBUR!

Mungkin, maksud mereka adalah memupuk mental sang pecinta alam ini. Tujuannya biar dapat lahir dan tumbuh pecinta alam yang tahan banting. Mungkin gitu maksudnya. Akan tetapi mereka lupaa….

Bahwa cara memupuk mental tidak harus memukul dan menyakiti secara fisik. Kenapa tidak diajari surviving yang lebih dalam saja? Kenapa justru tubuh yang harusnya kuat dan tegar menghadapi alam liar justru ‘dirusak’ dengan dipukuli, dengan rotan lagi! Gagal paham ane gan!

Terus lagi, efek dari pemukulan justru akan memberi trauma pada manusia pada umumnya. Entah sadar atau tidak, mereka akan cenderung melakukan hal yang sama pada junior mereka. Alhasil, adat istiadat kebodohanlah yang diwariskan, bukan pengalaman dan wawasan bernilai emas.

Lagian kalo naik gunung, kenapa gak belajar soal memilih tempat untuk mendirikan tenda, memilih jalan ketika tersesat, mengenalkan daun dan tumbuhan yang bisa diolah dan dimakan ketika persediaan makanan habis, menolong orang sakit ketika di atas gunung, dan masih banyak lagi pelajaran berharga yang harus dikuasai. Malah disuruh bawa air naik bukit sambil diinjak-injak. Goblok banget deh!

Kabarnya pihak UII sedang menyelidiki kasus ini. Dan semoga ini aja kejadian nyawa hilang pas diksar. Kasian ibu bapaknya yang membesarkan mereka, eh malah dipukuli diinjak-injak orang yang mungkin baru kenal.

Ngobrol santai yuk...